Pemilihan umum 2014 untuk memilih presiden dan wakil presiden masih lama, namun bursa calon mulai ramai. Setelah Partai Golkar menyebut nama Aburizal Bakrie sebagai capres, dan Prabowo Subiyanto unggul dalam salah satu survei, kini Partai Demokrat menggulirkan nama-nama Ani Yudhoyono, Anas Urbaningrum, Pramono Edhie Wibowo, dan Djoko Suyanto sebagai capres mereka. Siapa berpeluang?
Barangkali terlalu dini menghitung peluang nama-nama capres yang muncul secara publik akhir-akhir ini. Apalagi, seperti biasanya, umumnya partai politik baru akan mengumumkan secara resmi capres mereka beberapa saat menjelang pemilu. Namun munculnya nama capres lebih awal tentu perlu diapresiasi secara positif agar kelak masyarakat pada pemilu mendatang tidak telanjur membeli kucing dalam karung. Sekurang-kurangnya masyarakat berkesempatan mengecek dan menimbang rekam jejak mereka lebih awal, apakah benar-benar layak, atau sekadar hanya meramaikan bursa capres.
Dengan berakhirnya peluang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang telah menjabat dua periode, dan kemungkinan absennya Megawati Soekarnoputeri sebagai capres mendatang, persaingan para calon bisa jadi lebih keras dibandingkan Pilpres 2009. Apalagi berdasarkan hasil survei sejumlah lembaga survei, sejauh ini hamper tidak ada nama capres yang benar-benar menonjol, dalam arti unggul dalam beberapa hasil survei sekaligus. Tidak mengherankan jika capres tertentu yang unggul dalam suatu survei, ternyata memperoleh dukungan rendah di survei yang lain.
Capres Unggulan Parpol
Sejauh ini hanya ada dua nama capres yang kemungkinan besar bakal diusung oleh parpolnya masing-masing, yakni Aburizal Bakrie (Golkar) dan Prabowo Subianto (Partai Gerindra). Berbagai manuver Golkar, termasuk berbagai iklan layanan masyarakat, dalam beberapa waktu terakhir mengindikasikan begitu kuatnya keinginan pemilik kelompok usaha Bakrie sekaligus ketua umum partai beringin itu untuk menjadi calon RI-1 dalam Pemilu 2014. Meskipun nama mantan Wapres Jusuf Kalla sering juga disebut sebagai capres Golkar, tampaknya tidak mudah bagi mantan Ketua Umum Golkar 2004-2009 ini merebut tiket capres Golkar dari Aburizal.
Aburizal barangkali merupakan satu-satunya ketua umum parpol yang memiliki peluang paling besar sebagai capres resmi partainya. Soalnya, beberapa hasil survei publik mengindikasikan relatif tingginya tingkat elektabilitas Golkar dibandingkan misalnya, Partai Demokrat dan PDI Perjuangan. Jika Golkar benar-benar unggul dalam pemilu mendatang, tentu tidak ada halangan bagi Ical menjadi capres 2014.
Peluang lolos sebagai capres resmi parpol juga dimiliki Prabowo Subianto. Unggul dalam jajak pendapat yang dilakukan lembaga Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS), Prabowo bahkan tidak mempunyai seorang pun pesaing dari internal partainya. Persoalan bagi Prabowo adalah bagaimana meningkatkan elektabilitas partai yang dipimpinnya dalam pemilu legislatif mendatang sebagai modal bagi Gerindra untuk mengusung dirinya sebagai capres. Masalahnya, sebagai parpol kedua terkecil sesudah Partai Hanura, Gerindra juga dihadapkan pada kemungkinan tereliminasi dari DPR jika persentase ambang batas parlemen ditingkatkan di atas 3 persen pada Pemilu 2014 mendatang.
Nasib PD Tanpa SBY
Berbeda dengan Golkar dan Gerindra, Partai Demokrat sebagai parpol terbesar Pemilu 2009 belum memiliki nama capres yang “mengerucut” seperti Aburizal dan Prabowo. Berbagai rumor dan gosip politik sudah banyak beredar, namun hanya Jafar Hafsah, Ketua Fraksi PD di DPR, yang berani menyebut nama-nama capres yang akan digadang PD, yakni Ani Yudhoyono. Anas Urbaningrum, Pramono Edhie Wibowo, dan Djoko Suyanto (Sindo, 7 November 2011). Tidak penting, apakah Jafar Hafsah mewakili suara partai atau tidak, yang jelas nama-nama itulah yang selama ini sering disebut.
Problem PD terkait capres tampaknya berakar pada tiga soal. Pertama, Presiden SBY sebagai ikon partai segitiga biru ini tak memiliki peluang lagi sebagai capres. Kedua, sebagai ikon sekaligus figur sentral partai, SBY tidak kunjung memberi “sinyal”, siapa kira-kira yang dia “restui” sebagai penerus kejayaan PD pada pemilu mendatang. Ketiga, meskipun pernah menyatakan tidak hendak mencalonkan isteri dan anaknya sebagai capres, SBY sendiri tampaknya gamang untuk menokohkan figur tertentu jika tidak ada jaminan baginya bahwa keluarga Cikeas tidak diungkit-ungkit pasca-Pemilu 2014.
Di luar problematik di atas, sejumlah hasil survei mengindikasikan kemungkinan merosotnya tingkat elektabilitas PD pada pemilu mendatang. Itu artinya, empat nama capres yang disodorkan Jafar Hafsah belum tentu berpeluang menjadi calon resmi Demokrat. Bisa saja PD mencari sumber calon capres di luar partai, seperti misalnya Hatta Radjasa (PAN) yang notabene calon besannya, atau Mahfud MD, Ketua Mahkamah Konstitusi yang menduduki urutan kedua dalam survei lembaga SSS.
Mestinya Promosi Program
Bagi kita, masyarakat, barangkali bukan lagi saatnya mengusung figur capres tertentu semata-mata atas dasar popularitas belaka. Masyarakat dan bangsa ini sudah terlalu lelah dengan acrobat para tokoh dan politisi yang hanya merebut popularitas namun tanpa memiliki program yang jelas bagi perbaikan negeri ini ke depan.
Yang diperlukan negeri kita saat ini bukan sekadar hadirnya para capres secara prematur. Bangsa kita memerlukan calon pemimpin nasional yang tak sekadar memiliki komitmen jelas dan terukur, melainkan juga rekam jejak yang tidak cacat, tegas dan berani mengambil risiko, serta integritas dan karakter personal yang layak diteladani.
Karena itu parpol-parpol semestinya mendahulukan promosi program-program politik strategis tertentu untuk mengatasi aneka masalah krusial bangsa kita sebelum secara premature “menjual” figur-figur tertentu sebagai capres. Kalau tidak, maka Pilpres mendatang tak lebih sebagai momentum pertukaran kesempatan di antara elite politik tanpa kontribusi signifikan bagi perbaikan kehidupan masyarakat dan bangsa kita.
(Dimuat dalam Seputar Indonesia, 9 November 2011).